Gedung Baru DPRD Mulai Hancur, Kontraktor Harus Bertanggungjawab
PEKANBARU,MIMBARRIAU- Gedung mewah DPRD Pekanbaru yang belum sampai satu tahun lamanya, kini tampak mulai hancur dan retak-retak. Padahal, pembangunan gedung itu telah menghabiskan APBD Pekanbaru sebesar Rp46 miliar dan belum diserahkan kepada pihak dewan.
Pantauan Harian Detil di lapangan, terlihat di beberapa sudut bangunan ditemukan keretakan. Seperti keretakan dinding gedung serta keramik lantai yang sudah mulai menggelembung bergelombang. Kuat dugaan kondisi ini terjadi akibat kontruksi bangunan yang dikerjakan PT Waskita Karya sudah tidak sesuai bestek dan diduga untuk menghemat biaya pembangunan oleh kontraktor.
Keretakan gedung mulai tampak di depan lift tepatnya ruangan Fraksi Demokrasi Kebangsaan Raya (DKR) sepanjang 2 meter. Kemudian di depan lift lantai 1 juga tampak keramik lantai yang sudah mulai menggelembung sebanyak 20 keramik. Bahkan parahnya lagi, saat keramik dipijak terasa berjalan di atas angin. Jika ini dibiarkan, dikhawatirkan akan patah dan serpihannya dapat melukai seseorang.
Gedung DPRD Pekanbaru baru saja selesai dibangun beberapa bulan. Namun kondisinya sudah seperti saat ini. Untuk itu, dia meminta agar kontraktor Waskita Karya untuk segera memperbaiki seluruh kerusakan yang terjadi.
”Sejak selesai pembangunan gedung ini, harusnya ada pengawasan dari pihak kontraktor untuk meninjau dan melihat kondisi gedung setelah dibangun. Pembangunannya memang asal jadi. Masa baru saja selesai dibangun, banyak yang rusak dan retak.
Harusnya pembangunan gedung DPRD Pekanbaru sesuai dengan bestek. Jika memang ditemukan ada yang rusak dan hancur, kontraktor harus bertanggungjawab dan segera memperbaikinya.
Hal ini terjadi karena kurangnya analisis mengenai tapak atau site, sehingga terjadi kesalahan pada perencanaannya, yang menyebabkan kurang kuatnya pondasi pada bangunan sehingga menyebabkan keretakan pada dinding.
Minggu, 04 November 2012
Dampak Pembangunan Arsitektur
BAB 1 PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Latar belakang pembuatan makalah ini adalah untuk mengurangi resiko bangunan tidak bisa terpakai atau tidak bisa digunakan setelah dibangun, yang dikarenakan banyak hal.
Kiranya hampir semua orang tahu bahwa kegiatan perencanaan itu mahal. Namun lebih mahal lagi apabila pembangunan tanpa diawali dengan sebuah perencanaan yang biasanya melibatkan campur tangan maupun pemikiran seorang arsitek.
Sebuah pembangunan yang dilakukan tanpa adanya sumbangsi dari pemikiran seorang arsitek biasanya akan berjalan timpang, karena terkadang dalam memutuskan sebuah tindakan untuk pembangunan seorang klien biasanya hanya berpedoman pada literatur - literatur bangunan yang pernah ia lihat disekelilingnya, padahal jika ia melibatkan seorang arsitek maka akan keluar begitu banyak ide - ide segar dan unik yang belum ia ketahui sebelumnya. Ya, itulah salah satu kelebihan yang seharusnya ada dari pemikiran seorang arsitek.
Hal kecil lain yang dapat terjadi apabila pembangunan Rumah tanpa adanya campur tangan dari seorang arsitek, antara lain sebagai berikut ;
- Adanya "Konsep" bangunan / rumah yang tidak terdefinisi
- Perencanaan yang kurang matang terhadap program kebutuhan ruang, mulai dari kebutuhan ruang saat ini sampai dengan prediksi kebutuhan ruang dimasa yang akan datang. Hal ini biasanya sering terlupakan, baik klien maupun arsitek itu sendiri. Oleh karena itu pilihlah arsitek yang benar-benar dapat membantu anda sepenuhnya.
- Meningkatnya biaya pembangunan rumah yang tidak terkontrol. Tanpa adanya sebuah perencanaan yang jelas, maka biasanya seseorang akan membangun rumahnya berdasarkan "kebutuhan, pemikiran, maupun ide" yang ia pikirkan saat itu, sehingga sering terlupakan alternatif - alternatif lain yang kemungkinan berpotensi lebih murah & hemat.
- Adanya sedikit penyesalan diakhir pembangunan. Tak dapat dipungkiri bahwa hal ini dapat terjadi kepada siapa saja, dimana biasanya akan muncul pemikiran ; "Mengapa tidak begini atau begitu" atau "seharusnya dulu saya,,,,"
- Dan lain-lain.
TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengurangi resiko dan mempelajari pembangunan bangunan yang sesuai dengan prosedur dan dapat bermanfaat dengan baik, agar dapat digunakan sesuai fungsinya, dan dapat dihuni dengan baik setelah bangunan selesai dibangun.
BAB 2 TINJAUAN TEORI
Evaluasi Pasca Huni ini didasari keinginan untuk mengetahui dampak dari desain arsitektur bangunan dalam beberapa periode tahun pembangunannya terhadap penghuninya. Hal ini penting untuk mengetahui performa bangunan rusunawa termasuk didalamnya fungsi dan ketersediaannya fasilitas. Evaluasi pasca huni pada rusunawa di DKI Jakarta adalah untuk mengetahui persepsi penghuni terhadap perkembangan performa desain arsitektur bangunan rusunawa berdasarkan beberapa periode pembangunan. Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk memperbaiki desain rusunawa masa yang akan dating. Tujuan dari evaluasi pasca huni untuk :
1. menghasilkan dasar pertimbangan terhadap desain arsitektur bangunan rumah susun yang sesuai dengan standar pembangunan gedung, kenyamanan penghuni dan optimasi biaya pengelolaan dan
2. meminimalkan permasalahan dan kekeliruan dalam perancangan, sehingga desain dan penggunaan bahan bangunan yang dihasilkan pada masa yang akan dating menjadi lebih baik. Identifikasi masalah yang dilakukan berdasarkan pengamatan awal terhadap arsitektur bangunan antara lain:
a.permasalahan kebutuhan jenis ruang,
b.permasalahan besaran ruang dan
c. permasalahan jenis bahan dan material. Berdasarkan analisis terhadap hasil observasi dan pengamatan di lapangan dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa perkembangan arsitektur baik dari kebutuhan akan jenis program ruang, besaran dan ukuran ruang serta penggunaan material/bahan bangunan dalam beberapa periode, semakin lama menjadi lebih baik. Dapat dijelaskan bahwa beberapa jenis kebutuhan akan program ruang, besaran dan ukuran ruang serta penggunaan material/bahan bangunan yang digunakan adalah sebagai berikut:
(a) kebutuhan akan jenis ruang semakin berkembang dalam beberapa periode pembangunan, ini terlihat dari makin bervariasinya program ruang,
(b) besaran ruang pada unit hunian semakin lama semakin besar, sesuai dengan ketentuan bahwa unit paling kecil adalah 30 M2 dengan 2 (dua) ruang tidur, kebutuhan besaran unit juga perlu diperhatikan terhadap target penghuni yang berbeda dan disesuaikan kebutuhan ruang dari target penghuni seperti buruh pabrik/mahasiswa atau keluarga kecil/menengah yang hanya membutuhkan ruang serbaguna untuk unit huniannya.
3. perletakan zona ruang dalam beberapa periode tidak mengalami perubahan yang drastis, penempatan zona ruang pada unit hunian sudah memenuh criteria dalam standar penataan ruang,
4. jenis bahan dan material semakin lama berdasarkan beberapa periode semakin baik, hanya pada bagian-bagian tertentu penggunaan bahan dan material belum memenuhi satu criteria, antara lain finishing untuk ruang dalam unit hunian dan
5. desain dan tampak muka (façade) bangunan rusunawa semakin baik, sehingga dapat meningkatkan image dari rusunawa tersebut. Selanjutnya untuk memperbaiki persepsi negative atas rusunawa dapat direkomendasikan antara lain:
a. berusaha melahirkan bentukan yang lebih dinamis dan imajinatif,
b.memilih material bangunan yang rendah perawatan
c. mengolah pilihan material tersebut menjadi lebih menarik dan memiliki nilai estetis.
BAB 3 METODOLOGI
Analisis ini menggunakan analisis secara kualitatif. Analisis kualitatif adalah analisi dengan cara mengumpulkan data berupa cerita rinci atau keadaan sebenarnya. Dengan kata lain, analisi kualitaitf adalah analisis dengan cara mengembangkan, menciptakan, menemukan konsep dan teori.
Analisi data secara kualitatif dilakukan berdasrkan logika dan argumentsi yang bersifat ilmiah. langkah-langka ini meliputi survey obyek-obyek komparsi, lokasi tapak untuk mendapatkan data-data dan komparsi yang berhubungan dengan obyek perancangan.
Pengumpulan dan pengolahan data. baik primer maupun sekunder berfungsi dalam proses perancangan obyek studi. Data primer dapat berasal dari pengamatan secara langsung dengan orang-orang yang berkecimpung di dalamanya. Sedangkan data sekunder diperoleh tanpa pengamatan langsung, tetapi menunjang proses kajian yang berkaitan dengan objek studi. Data-data tersebut kemudian diolah dan dianalisi hingga memperoleh alternatif berupa sintesis dan konsep.
pengumpulan data dengan analisis unsur-unsur yang ada pada tapak dan interaksinya, sehingga muncul masalah yang lebih spesifik. Sedangkan evaluasi dialkukan melalui tahap informasi kondisi, potemsi, daya dukung tapak terhadap lingkungan sekitar, hipotesa dan sintesis.Dalam pencarian data dari informasi primer dan sekunder, digunakan metode yang dapat dijelaskan sebagai berikut, yaitu :
Data Primer
Data primer adalah data yang didapatkan dengan cara mengadakan survei lapangan. Untuk metode pengumpulan data tersebut dapat dilakukan dengan metode observasi, yaitu melakukan survey langsung ke lokasi. Hal ini mutlak diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya lokasi proyek. Untuk menganalisa keretakkan jembatan, diperlukan pengamatan terhadap bentuk dan panjang retak, arah retak dan lokasi retak. Sehingga dapat melakukan hipotesa awal penyebab keretakkan jembtan tersebut.
Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang didapatkan dari beberapa instansi terkait. Data yang diperlukan untuk menganalisa keretakkan jembatan adalah as build drawing dari jembatan, peta perlintasan jembatan, kondisi tanah dan lain sebagainya.
BAB 4 STUDI KASUS
Bangunan Puskesmas rawat inap bersumber dari APBD Provinsi Riau di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan tidak bermamfaat. Pasalnya, fisik bangunan dengan Tahun Anggaran 2008 ini sudah hancur dan rusak berat.
Demikian temuan reses anggota DPRD Pelalawan Daerah Pemilihan 2 beberapa hari yang lalu ke kecamatan Teluk Meranti. Dari temuan, tersebut kondisi bangunan fisik Puskesmas rusak berat, dinding bangunan retak-retak. Jika tidak segera di renovasi bangunan ini akan roboh.
Salah seorang, anggota DPRD Pelalawan Suprianto, mengaku, kondisi Puskesmas ini sama sekali tidak ada dilakukan upaya perbaikan oleh dinas Kesehatan provinsi, soalnya sejak pembangunan puskesmas ini dihentikan pekerjaannya sampai sekarang tidak di perbaiki sementara anggaran yang diperuntukan untuk membangun puskesmas ini mencapai milyaran rupiah.
Ia menjelaskan, sebelumnya hasil pembangunan Puskesmas Rawat inap di Teluk meranti juga sudah di kunjungi oleh anggota DPRD Provinsi dari komisi yang membidangi nya, namun sampai sekarang tidak ada tanggapan serius dari Diskes Provinsi Riau terkait hancurnya bangunan Puskesmas itu.
BAB 5 PEMBAHASAN
Lagi-lagi terjadi kegagalan bangunan, kali ini Gedung Puskesmas Rawat Inap Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Propinsi Riau terkesan amburadul.
Intisari yang dapat saya ambil dari pemberitaan Riau Pos Jumat, tanggal 3 Desember 2010, halaman 27 (Pro-Pelalawan) adalah sebagai berikut ini.Pertama: Puskesmas yang dibangun dari tahun 2008 s/d 2010 ini “sudah retak dan akan runtuh”. Kedua: Berdasarkan pantauan Riau Pos, Rabu (1/12), “Puskesmas ini rusak berat”. Ketiga: Menurut Lurah Teluk Meranti H Hasan, “Bagunan rusak parah, tidak mungkin digunakan, apalagi kerusakan tidak hanya retak dibebera sisi terlihat temboknya jebol dan pondasinya patah.
Keempat: Menurut Camat Meranti Dahnil, “bangunan yang dikerjakan rusak parah”. Kelima: Menurut dua kadis eks pecahan Dinas PU, yaitu Kadis Cipta Karya Zainal Abidin dan Kadis PU Atmonadi, (1) Menduga bahwa penyebab kerusakan berat bangunan Puskesmas Teluk Meranti adalah pondasi patah. (2) Menduga kelalaian kontraktor dalam melaksanakan pembagunan, dan “bukan karena kesalahan konsultan”.
Melihat situasi seperti apa yang telah diberitakan, yang pertama saya komentarin adalah bahwa “Munking Saja Salah Perencana”, sesuai dengan judul tulisan ini. Mengapa demikian? Dari gambar (Riau Pos) tampak dinding jebol, jadi jelas balok sloof (atau Tie Beam) yang menopang dinding patah, lepas, atau bisa jadi pondasi turun (larga Settlement). Kondisi bisa saja karena perencanaan penempatan pondasi dinding yang berbeda jenis atau kedalaman yang berbeda dengan pondasi induk. Bisa jadi perencanaan balok sloof atau tie beam yang tidak matang, sistem pemikulnya salah atau dimensi sloof kekecilan. Jadi hal ini mungkin saja kesalahan perencana, tolong evaluasi dulu, baru membuat pernyataan!
Kemudian kontraktor dan konsultan pengawas sudah jelas bersalah, sehingga terjadi kegagalan bangunan yang begitu parah. Seandainya ada kesalahan desain, seharusnya kontraktor dan konsultan pengawas pemenang tender harus mempelajari gambar kerja sebelum pelaksanaannya. Karena kontraktor dan konsultan pemenang tender seharusnya merupakan pihak yang sudah mampu dalam hal teknis sesuai dengan profesionalnya
BAB 6 PENUTUP
Kesimpulan
dari makalah diatas sudah dapat disimpulkan bahwa kesalahan perencanaan dapat bersifat fatal, sehingga bangunan rusak sebelum bisa dipakai, hasilnya juga tidak dapat digunakan dengan baik, dan merugikan banyak pihak. oleh karena itu pentingnya analisis dan perencanaan yang baik merupakan faktor yang penting dalam pembangunan.
Saran
Melalui makalah ini saya ingin menyampaikan bahwa dalam membangun bangunan harus menyiapkan sebuah perencanaan yang baik agar bangunan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan sesuai dengan fungsinya, serta strukturnya harus diperhatikan agar bangunan tidak rusak sebelum dipakai seperti contoh diatas.
DAFTAR PUSTAKA
ASPEK MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Aspek Manusia/Pemakai dan Lingkungan
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
aspek manusia/pemakai dan aspek lingkungan dalam pembangunan saling berkaitan, dikarenakan aspek manusia dapat mempengaruhi lingkungan sekitar dan begitu juga sebaliknya.
oleh karena itu penting bagi kita untuk untuk menjaga lingkungan kita agar dalam pembangunan itu tidak merusak lingkungan sekitar, karena jika kita merusak lingkungan sekitar kita pula yang akan menanggung akibatnya, contohnya adalah seperti penebangan pohon untuk pembangunan industri, penebangan pohon tersebut dapat menyebabkan terjadinya banjir, dll.
manusia juga bisa mengurangi terjadinya bencana seperti banjir , longsor, dll, dengan menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar sehingga bisa mengurangi terjadinya kerusakan pada bangunan rumah kita atau pemukiman.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut.
aspek manusia/pemakai dan aspek lingkungan dalam pembangunan saling berkaitan, dikarenakan aspek manusia dapat mempengaruhi lingkungan sekitar dan begitu juga sebaliknya.
oleh karena itu penting bagi kita untuk untuk menjaga lingkungan kita agar dalam pembangunan itu tidak merusak lingkungan sekitar, karena jika kita merusak lingkungan sekitar kita pula yang akan menanggung akibatnya, contohnya adalah seperti penebangan pohon untuk pembangunan industri, penebangan pohon tersebut dapat menyebabkan terjadinya banjir, dll.
manusia juga bisa mengurangi terjadinya bencana seperti banjir , longsor, dll, dengan menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar sehingga bisa mengurangi terjadinya kerusakan pada bangunan rumah kita atau pemukiman.
Aspek Teknologi, Ekonomi, dan Lingkungan dalam Pembangunan
Aspek Teknologi, Ekonomi, dan Lingkungan
Aspek teknologi, aspek ini sangat berkaitan erat dengan aspek ekonomi dan lingkungan , karena sebenarnya aspek-aspek ini saling terhubung satu sama lain. Buktinya adalah, manusia sangat membutuhkan teknologi untuk membantu mempermudah kelangsungan hidupnya, karena jika kita hanya mengandalkan bahan dari alam saja, lama kelamaan bahan tersebut akan habis.
apalagi selama adanya wacana pemanasan global, penebangan liar sebagai salah satu penyebab hilangnya hutan tropis, inilah sebabnya aspek teknologi tidak bisa dipisahkan dengan aspek-aspek lainnya.
Trend green house, telah membuat banyak perubahan dalam penggunaan dan konsep design rumah tinggal. Salah satunya adalah mulai berkurangnya penggunaan bahan dari kayu diganti dengan bahan jadi seperti aluminium, beton, plastik dll.
Kita ambil sebagai contoh adalah kusen, jika kusen yang kita pakai hanya terbuat dari kayu saja, maka lama kelamaan bahan kayu dipasaran akan langka, sehingga menyebabkan kenaikan harga yang drastis, sehingga banyak orang akan sulit membelinya, tapi dengan bantuan teknologi kita dapat membuat pengganti kayu sebagai bahan dasar kusen yang terbuat dari aluminium, sehingga pemakaian bahan dasar kayu untuk kusen dapat dikurangi, oleh karena itu sampai saat ini kita masih bisa melihat kayu.
penggunaan kusen dengan bahan aluminium pun memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kayu, sebagai berikut :
Walaupun pemakaian aluminium untuk kusen masih jarang, tapi dalam beberapa tahun kedepan pemakaian aluminium untuk kusen akan meningkat naik, karena harga kayu akan meningkat naik. itu merupakan salah satu contoh upaya manusia dalam melindungi alam. Bahkan sebenarnya manusia zaman sekarang sudah sangat ketergantungan dengan teknologi.
Aspek teknologi, aspek ini sangat berkaitan erat dengan aspek ekonomi dan lingkungan , karena sebenarnya aspek-aspek ini saling terhubung satu sama lain. Buktinya adalah, manusia sangat membutuhkan teknologi untuk membantu mempermudah kelangsungan hidupnya, karena jika kita hanya mengandalkan bahan dari alam saja, lama kelamaan bahan tersebut akan habis.
apalagi selama adanya wacana pemanasan global, penebangan liar sebagai salah satu penyebab hilangnya hutan tropis, inilah sebabnya aspek teknologi tidak bisa dipisahkan dengan aspek-aspek lainnya.
Trend green house, telah membuat banyak perubahan dalam penggunaan dan konsep design rumah tinggal. Salah satunya adalah mulai berkurangnya penggunaan bahan dari kayu diganti dengan bahan jadi seperti aluminium, beton, plastik dll.
Kita ambil sebagai contoh adalah kusen, jika kusen yang kita pakai hanya terbuat dari kayu saja, maka lama kelamaan bahan kayu dipasaran akan langka, sehingga menyebabkan kenaikan harga yang drastis, sehingga banyak orang akan sulit membelinya, tapi dengan bantuan teknologi kita dapat membuat pengganti kayu sebagai bahan dasar kusen yang terbuat dari aluminium, sehingga pemakaian bahan dasar kayu untuk kusen dapat dikurangi, oleh karena itu sampai saat ini kita masih bisa melihat kayu.
penggunaan kusen dengan bahan aluminium pun memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kayu, sebagai berikut :
- Tahan keropos, tidak dimungkinkan untuk dimakan rayap.
- Bahan aluminium yang lebih tahan lama, anti rayap,dan tidak menyusut seperti kayu, tidak akan mengalami penyusutan dan perubahan bentuk / melengkung akibat perubahan cuaca
- Tampilan kusen aluminium dapat dicat atau dilapis dengan warna kayu bahkan motif kayu sehingga menyerupai kayu.
- Desain dapat dibuat sesuai pesanan. Keunggulan kusen aluminium adalah bobotnya yang ringan dan kuat sehingga mudah dipindahkan. Perawatannya yang simpel menjadi daya tarik bagi pembelinya disamping kualitas bahan aluminium.
- Ekonomis, dalam pengertian biaya proses pembuatan, pemasangan dan perawatan untuk kusen aluminium lebih murah karena lebih tahan lama.
Walaupun pemakaian aluminium untuk kusen masih jarang, tapi dalam beberapa tahun kedepan pemakaian aluminium untuk kusen akan meningkat naik, karena harga kayu akan meningkat naik. itu merupakan salah satu contoh upaya manusia dalam melindungi alam. Bahkan sebenarnya manusia zaman sekarang sudah sangat ketergantungan dengan teknologi.
Sabtu, 13 Oktober 2012
ASPEK-ASPEK DALAM PEMBANGUNAN ( SOSIAL BUDAYA )
BAB 1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang banyak membawa perubahan terhadap kehidupan manusia baik dalam hal perubahan pola hidup maupun tatanan sosial termasuk dalam bidang arsitektur yang sering dihadapkan dalam suatu hal yang berhubungan langsung dengan norma dan budaya yang dianut oleh masyarakat yang bermukim dalam suatu tempat tertentu.
Pengaruh sosial budaya dalam masyarakat memberikan peranan penting dalam pembangunan. Perkembangan sosial budaya dalam masyarakat merupakan suatu tanda bahwa masyarakat dalam suatu daerah tersebut telah mengalami suatu perubahan dalam proses berfikir. Perubahan sosial dan budaya bisa memberikan dampak positif maupun negatif.
Hubungan antara budaya dan pembangunan sangatlah erat hubungannya,sebagai salah satu contoh suatu masyarakat provinsi tertentu yang dapat mempertahankan bangunan daerah mereka.
BAB 2 TINJAUAN TEORI
Pengertian Sosial
Dalam usaha beradaptasi dengan lingkungannya, manusia bekerjasama dengan sesamanya. akan tetapi kerjasama itu hanya akan berjalan baik di dalam tertib sosial budaya serta didalam wadah organisasi sosial. Organisasi sosial ini merupakan produk sosial budaya, sekaligus merupakan wadah perwujudan dan pertumbuhan kebudayaan.
Di dalam organisasi sosial manusia hidup berkelompok dan mengembangkan norma sosial yang meliputi kehidupan normatif, status, kelompok asosiasi, dan institusi. Organisasi sosial mencakup aspek fungsi yang berwujud dalam aktivitas bersama anggota masyarakat dan aspek struktur. Aspek struktur terdiri dari struktur kelompok di dalam pola umum kebudayaan dan seluruh kerangka lembaga sosial.
Setiap masyarakat mempunyai 4 unsur penting yang menentukan eksistensinya yaitu struktur sosial, pengawas sosial, media sosial dan standar sosial.
§ Struktur sosial: setiap masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok untuk memudahkan pelaksanaan tugas;
§ Pengawas sosial: pengawas sosial mencakup sistem dari ketentuan-ketentuan yang mengatur kegiatan dan tindakan anggota masyarakat, pengetahuan empiris yang digunakan manusia untuk menanggulangi lingkungan, dan pengetahuan empiris yang mengatur sikap dan tingkah laku manusia seperti agama, kepercayaan, ideologi dan sebagainya.
§ Media sosial: Dalam pelaksanaan tugas dan kegiatan sosial, diperlukan adanya komunikasi dan relasi antar anggota masyarakat. Komunikasi dan relasi itu dilangsungkan dengan menggunakan bahasa dan alat transportasi.
§ Standar sosial: standar sosial merupakan ukuran untuk menilai tingkah laku anggota masyarakat serta nilai tingkah cara masyarakat mencapai tujuan.
Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup masyarakat yang perwujudannya tampak pada tingkah laku para anggotanya. kebudayaan tercifta oleh banyak faktor organ biologis manusia, lingkungan alam, lingkungan sejarah, dan lingkungan psikologisnya. Masyarakat Budaya membentuk pola budaya sekitar satu atau beberapa fokus budaya. Fikus budaya dapat berupa nilai misalnya keagamaan, ekonomi, ideologi dan sebagainya.
Setelah dikemukakan masing-masing artik kata dari sosial dan budaya, maka pengertian sosial budaya dapat dirumuskan adalah sebagai kondisi masyarakat (bangsa) yang mempunyai nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara yag dilandasi dengan falsafah negara kesatuan Republik Indoesia.
Ketahanan di bidang sosial budaya dimaksud menggambarkan kondisi dinamis suatu bangsa atau masyarakat, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan pengembangan kekuatan nasional didalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan dari dalam maupun dari luar yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya bangsa dan negara.
Pengertian Sosial Budaya
Aspek sosial budaya.Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi, cara dan pola pikir masyarakat, faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi, dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain, perkembangan IPTEK yang lambat, sifat masyarakat yang sangat tradisional, ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat, prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru, rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan, hambatan ideologis, dan pengaruh adat atau kebiasaan.
BAB 3 STUDI KASUS
Contoh Bangunan Rumah Adat Yang Berkaitan dengan Sosial-Budaya.
RUMAH TEMUKUNG
Rumah temukung termasuk dalam kategori rumah panggung. Rumah yang bentuknya empat persegi panjang ini bagian-bagiannya ada yang bermakna filosofis dan ada yang non-filosofis (fungsional belaka). Bagian-bagian itu adalah: atap, bangngu (balok lok bubungan), tiang-tiang gela yang berfungsi sebagai penopang bangngu, dinding, pintu, tangga, dan kelaga (balai-balai). Untuk lebih jelasnya, berikut ini bagian-bagian itu akan diuraikan satu-persatu.
Atap
Atap rumah temukung menyerupai perahu yang terbalik. Oleh karena itu, Orang Sabu menyebut atap rumah temukung sebagai “atap perahu terbalik”. Bentuk atap yang menyerupai perahu terbalik ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka yang selalu berhubungan dengan laut (tidak dapat dipisahkan dari laut). Dalam kehidupan sehari-hari, perahu tidak hanya
sekedar sebagai alat transportasi ke dan dari pulau-pulau yang ada di sekitarnya, tetapi juga sebagai alat untuk mencari ikan dan sekaligus sebagai tempat berlindung di lautan. Mengingat bahwa perahu demikian berartinya bagi Orang Sabu, maka ketika mereka membuat rumah, atapnya dibuat menyerupai perahu (perahu yang terbalik). Ini adalah simbol bahwa kehidupan mereka tidak lepas dari laut. Malahan, bukan atap rumah saja, menyebut suatu kampung atau kumpulan kampung pun dengan istilah ree kowa (kampung perahu).
Balok Lok Bubungan
Istilah lain yang sering digunakan oleh Orang Sabu untuk menyebut balok lok bubungan adalah “bangngu”. Bangngu sangat erat kaitannya dengan atap karena ukuran atap ditentukan oleh bagian ini. Bentuk bangngu pada tipe rumah temukung dan rumah biasa dapat dibagi menjadi dua, yaitu: ammu ae roukoko (bangngu yang sama ukurannya dengan badan rumah) dan ammu iki (bangngu yang ukurannya 3/5 dari panjang badan rumah)2). Bangngu ini dipasangi kayu-kayu yang posisinya menurun ke arah samping kiri dan kanan sampai ke tepi tiris, sehingga bentuknya menyerupai segi tiga. Kayu-kayu tersebut oleh mereka disebut worena (usuk besar). Dalam sebuah rumah, baik temukung maupun rumah biasa, jumlahnya selalu ganjil. Sebutan untuk jumlah worena dalam sebuah rumah sesuai dengan bahasa deret hitung mereka. Jadi, jika jumlah worenanya ada tiga buah, maka disebut “wo tallu”; jika ada lima buah disebut “wo pidu”; jika ada tujuh buah disebut “wo heo”; dan seterusnya.
Di atas worena dipasangi kayu-kayu yang arahnya melintang. Kayu-kayu ini oleh Orang Sabu disebut “reng” atau “badu”. Jumlah badu yang ada di bagian depan rumah selalu ganjil (9, 11, dan 21), sedangkan yang ada di bagian belakang rumah selalu genap (10,12, dan 22). Ganjil dan genapnya jumlah badu mengandung makna tersendiri. Ganjil merupakan simbol: kiri, belakang, adik, dan perempuan. Sedangkan, genap merupakan simbol: kanan, depan, kakak, dan laki-laki. Artinya, dalam struktur sosial masyarakat Sabu seorang kakak laki-laki mempunyai kedudukan dan peranan yang penting, baik dalam keluarganya maupun masyarakatnya.
Tiang-tiang Rumah Temukung/Gela (Tiang Penopang Bangngu)
Jumlah gela ada dua buah. Satu ada di ujung kiri dan satunya lagi ada di ujung kanan bangngu. Di antara kedua gela itu ada ruang terbuka (kosong). Orang Sabu menyebut ruang itu “roa ammu”. Gela biasanya terbuat dari kayu kola, kayu merah, kayu jati, kayu pohon lontar, kayu pohon kelapa, ajumaddi (kayu hitam) dan aju bahhi (kayu besi). Kayu lainnya dianggap kurang baik.
Sementara itu, tiang-tiang lainnya, seperti tiang-tiang penyangga loteng dan tiang penyangga balok-balok lainnya diberi nama menurut pembagian utama dalam rumah temukung, yaitu duru dan wui.
Kelaga (Balai-balai)
Orang Sabu menyebut lantai rumah temukung sebagai kelaga (balai-balai). Kelaga terbagi dalam tiga bagian, yaitu: kelaga rai (balai-balai tanah), kelaga ae (balai-balai besar) dan kelaga dammu (balai-balai loteng). Bagian-bagian tersebut sangat erat kaitannya dengan kepercayaan mereka tentang dunia. Menurut mereka “dunia” terbagi dalam tiga bagian, yaitu: rai dida-liru bala (dunia para dewa), rai wawa (dunia manusia), dan rai menata (dunia para arwah).
Pintu
Orang Sabu menyebut pintu rumah temukung sebagai kelai. Bentuknya segi empat. Secara keseluruhan, jumlah pintu rumah temukung ada empat, yaitu: kelai duru (pintu anjungan), kelai wui (pintu buritan), kelai koppo (pintu kamar), dan kelai dammu (pintu loteng). Ukuran setiap pintu bergantung dari ukuran rumah itu sendiri. Meskipun demikian, pada umumnya berukuran: panjang sekitar 1,30-1,75 meter dan lebar 0,70-0,90 meter. Di masa lalu pintu terbuat dari anyaman daun lontar. Namun, dewasa ini jarang ditemukan karena sebagian besar sudah menggunakan kayu.
BAB 4 PENUTUP
Pembangunan bidang sosial budaya merupakan hal yang tidak mudah, karena terkait dnegan persoalan filsafat hidup bangsa, pandangan hidup masyarakat, persepsi, cara berfikir, sistem nilai dan orientasi pada masyarakat. Sasaran dari pembangunan bidang sosial budaya adalah membangun negara bangsa sehingga menjadi negara modern tanpa kehilangan jati dirinya. Dalam meyusun strategi pembangunan bidang sosial budaya, aspek yang perlu menjadi perhatian adalah
1. Bahasa
2. Adat istiadat
3. Persepsi tetang kekuasaan,
4. Hubungan dengan alam,
5. Locus of sistem,
6. Pandangan tetnang wanita, dan
7. Sistem keluarga besar.
Pembangunan aspek tersebut karena berorientasi pada masyarakat maka harus dikategorisasikan dalam tiga kelompok Golongan masyarakat yaitu golongan tradisional, golongan modernis dan golongan ambivalen. Golongan masyarakat ynag tradisional cenderung menolak modernisasi karena menganggap bahwa modernisasi lebih dekat pada proses “westernisasi”, berorientasi masa lalu dan tingkat pendidikan yang masih rendah. Golongan modernis adalah golongan yang telah medapatkan pendidikan , terutama pendidikan tinggi, memiliki wawasan luas, dan berorientasi masa depan. Sedangkan Golongan ambivalen berorientasi masa sekarang, dan tidak mau bertanggung jawab dan mengambil resiko dari modernisasi.
Strategi yang dapat ditempuh untuk melakukan pembangunan sosial budaya adalah dengan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Yang dimaksudkan dalam pendidikan yang seluas-luasnya adalah segala upaya yang dilakukan demi terwujudnya masyarakat modern yang didambakan. Artinya bahwa proses pendidikan dapat bersifat formal, informal dan non formal
DAFTAR PUSTAKA
Minggu, 17 Juni 2012
Contoh Kasus Mengenai Phobia dan Cara Mengatasinya
Pengertian Phobia
Phobia adalah ketakutan
yang berlebih-lebihan terhadap benda-benda atau situasi-situasi tertentu yang
seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan. Istilah “phobia”
berasal dari kata “phobi” yang artinya ketakutan atau kecemasan yang sifatnya
tidak rasional; yang dirasakan dan dialami oleh sesorang. Phobia merupakan
suatu gangguan yang ditandai oleh ketakutan yang menetap dan tidak rasional
terhadap suatu obyek atau situasi tertentu.
Walaupun ada ratusan
macam phobia tetapi pada dasarnya phobia-phobia tersebut merupakan bagian dari
3 jenis phobia, yang menurut buku DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual for
Mental Disorder IV) ketiga jenis phobia itu adalah:
1. Phobia sederhana atau
spesifik (Phobia terhadap suatu obyek/keadaan tertentu) seperti pada binatang,
tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.
2. Phobia sosial (Phobia
terhadap pemaparan situasi sosial) seperti takut jadi pusat perhatian, orang
seperti ini senang menghindari tempat-tempat ramai.
3. Phobia kompleks
(Phobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka misalnya di kendaraan
umum/mall) orang seperti ini bisa saja takut keluar rumah.
Penyebab Phobia
Phobia dapat disebabkan
oleh berbagai macam hal. Pada umumnya phobia disebabkan karena pernah mengalami
ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau
bersalah yang semuanya kemudian ditekan kedalam alam bawah sadar. Peristiwa
traumatis di masa kecil dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab
terjadinya phobia.
Lalu bagaimana
menjelaskan tentang orang yang takut akan sesuatu walaupun tidak pernah
mengalami trauma pada masa kecilnya? Martin Seligman di dalam teorinya yang
dikenal dengan istilah biological preparedness mengatakan ketakutan yang
menjangkiti tergantung dari relevansinya sang stimulus terhadap nenek moyang
atau sejarah evolusi manusia, atau dengan kata lain ketakutan tersebut
disebabkan oleh faktor keturunan. Misalnya, mereka yang takut kepada beruang,
nenek moyangnya pada waktu masih hidup di dalam gua, pernah diterkam dan hampir
dimakan beruang, tapi selamat, sehingga dapat menghasilkan kita sebagai
keturunannya. Seligman berkata bahwa kita sudah disiapkan oleh sejarah evolusi
kita untuk takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam survival kita.
Pada kasus phobia yang
lebih parah, gejala anxiety neurosa menyertai penderita tersebut. Si penderita
akan terus menerus dalam keadaan phobia walaupun tidak ada rangsangan yang
spesifik. Selalu ada saja yang membuat phobia-nya timbul kembali, misalnya
thanatophobia (takut mati), dll.
Perlu kita ketahui bahwa
phobia sering disebabkan oleh faktor keturunan, lingkungan dan budaya.
Perubahan-perubahan yang terjadi diberbagai bidang sering tidak seiring dengan
laju perubahan yang terjadi di masyarakat, seperti dinamika dan mobilisasi
sosial yang sangat cepat naiknya, antara lain pengaruh pembangunan dalam segala
bidang dan pengaruh modernisasi, globalisasi, serta kemajuan dalam era
informasi. Dalam kenyataannya perubahan-perubahan yang terjadi ini masih
terlalu sedikit menjamah anak-anak sampai remaja. Seharusnya kualitas perubahan
anak-anak melalui proses bertumbuh dan berkembangnya harus diperhatikan sejak
dini khususnya ketika masih dalam periode pembentukan (formative period) tipe
kepribadian dasar (basic personality type). Ini untuk memperoleh generasi
penerus yang berkualitas.
Berbagai ciri
kepribadian/karakterologis perlu mendapat perhatian khusus bagaimana lingkungan
hidup memungkinkan terjadinya proses pertumbuhan yang baik dan bagaimana
lingkungan hidup dengan sumber rangsangannya memberikan yang terbaik bagi
perkembangan anak, khususnya dalam keluarga.
Berbagai hal yang
berhubungan dengan tugas, kewajiban, peranan orang tua, meliputi tokoh ibu dan
ayah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, masih sering kabur,
samar-samar. Sampai saat ini masih belum jelas mengenai ciri khusus pola asuh
(rearing practice) yang ideal bagi anak. Seperti umur berapa seorang anak
sebaiknya mulai diajarkan membaca, menulis, sesuai dengan kematangan secara
umum dan tidak memaksakan. Tujuan mendidik, menumbuhkan dan memperkembangkan
anak adalah agar ketika dewasa dapat menunjukan adanya gambaran dan kualitas
kepribadian yang matang (mature, wel-integrated) dan produktif baik bagi dirinya,
keluarga maupun seluruh masyarakat. Peranan dan tanggung jawab orang tua
terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah teramat penting.
Contoh Kasus
Andri adalah murid salah
satu sekolah dasar di Semarang, ia memiliki masalah ketidakmampuan menjalin
hubunga sosial yang baik dengan teman sebayanya dikarenakan terlalu banyak
bermain game online. Semakin berjalannya waktu dan ketidakmampuan Andri untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi, masalah Andri ini menjadi meluas. Tidak
hanya dengan teman-teman sebayanya tetapi juga dengan guru-guru pengajar.
Yang menjadi perhatian
adalah ketika Andri berbicara dengan orang lain. Tidak terfokus dengan lawan
bicara, hanya tersenyum-senyum sambil menggerakkan kepalanya dengan hitungan
patah-patah seperti boneka kayu yang kaku dan pandangan kosong lurus ke depan.
Hitungan fokus untuk menatap lawan bicara hanya kurang dari 6 detik dan fokus
pada topik pembicaraan hanya kurang dari 9 detik. Pola seperti ini, terulang
terus menerus ketika Andri dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dia untuk
berkomunikasi dengan dua orang atau lebih.
Pola yang terulang
terus-menerus setiap kali berbicara dengan Andri,membuat teman-teman sekelasnya
menjauhi Andri. Bahkan ada seorang guru yang membentak Andri dengan menggunakan
kata “gendheng dan autis.”
Masalah baru muncul.
Andri tidak hadir di sekolah sampai hampir 1 minggu. Menurut pengakuan ibunya,
setiap disuruh berangkat ke sekolah, badan Andri mendadak panas dan kakinya
dingin yang disertai dengan diare. Empat surat izin tidak masuk karena sakit dari
orang tua Andri, terdapat diatas meja kerja guru. Tiga kali diperiksakan ke
dokter oleh orang tuanya, tidak diketahui adanya penyakit berbahaya. Menurut
analisa dokter, sakitnya Andri dikarenakan Andri mengalami stres berat dan
ketakutan akan sesuatu. Kepada ibunya, Andri bercerita kalau dia takut
berhadapan dengan guru yang mengatakan dia gendheng dan autis. Sehingga membuat
dia takut berangkat ke sekolah.
Gejala yang dialami oleh
Andri, menunjukkan bahwa Andri terserang Phobia Sekolah. Menurut Jacinta F.
Rini, phobia sekolah adalah bentuk kecemasan yang tinggi terhadap sekolah yang
biasanya disertai dengan berbagai keluhan yang tidak pernah muncul atau pun
hilang ketika “masa keberangkatan” sudah lewat atau pada hari Minggu atau hari
libur. Phobia sekolah dapat sewaktu-waktu dialami oleh setiap anak hingga
usianya 14-15 tahun, saat dirinya mulai bersekolah di sekolah baru atau
menghadapi lingkungan baru atau pun ketika ia menghadapi suatu pengalandri yang
tidak menyenangkan di sekolah.
Ada beberapa tanda yang
dapat dijadikan sebagai kriteria phobia sekolah, yaitu:
1. Menolak untuk
berangkat ke sekolah.
2. Mau datang ke
sekolah, tetapi tidak lama kemudian minta pulang
3. Pergi ke sekolah
dengan menangis, menempel terus dengan orang tua atau pengasuhnya, atau
menunjukkan tantrum-nya seperti menjerit-jerit di kelas, agresif terhadap anak
lainnya (memukul, menggigit, dsb.) atau pun menunjukkan sikap-sikap
melawan/menentang gurunya
4. Menunjukkan
ekspresi/raut wajah sedemikian rupa untuk meminta belas kasih guru agar
diijinkan pulang dan ini berlangsung selama periode tertentu.
5. Tidak masuk sekolah
selama beberapa hari.
6. Keluhan fisik yang
sering dijadikan alasan seperti sakit perut, sakit kepala, pusing, mual,
muntah-muntah, diare, gatal-gatal, gemetaran, keringatan, atau keluhan lainnya.
Anak berharap dengan mengemukakan alasan sakit, maka ia diperbolehkan tinggal
di rumah.
7. Mengemukakan keluhan
lain (diluar keluhan fisik) dengan tujuan tidak usah berangkat ke sekolah.
8. Senang berdiam diri
di dalam kamar dan kurang mau bergaul .
Teknik Penyembuhan
Ada beberapa teknik
Untuk penyembuhan phobia diantaranya adalah sbb:
1. Hypnotheraphy:
Penderita phobia diberi sugesti-sugesti untuk menghilangkan phobia.
2. Flooding: Exposure
Treatment yang ekstrim. Si penderita phobia yang ngeri kepada anjing
(cynophobia), dimasukkan ke dalam ruangan dengan beberapa ekor anjing jinak,
sampai ia tidak ketakutan lagi.
3. Desentisisasi
Sistematis: Dilakukan exposure bersifat ringan. Si penderita phobia yang takut
akan anjing disuruh rileks dan membayangkan berada ditempat cagar alam yang
indah dimana si penderita didatangi oleh anjing-anjing lucu dan jinak.
4. Abreaksi: Si
penderita phobia yang takut pada anjing dibiasakan terlebih dahulu untuk
melihat gambar atau film tentang anjing, bila sudah dapat tenang baru kemudian
dilanjutkan dengan melihat objek yang sesungguhnya dari jauh dan semakin dekat
perlahan-lahan. Bila tidak ada halangan maka dapat dilanjutkan dengan memegang
anjing dan bila phobia-nya hilang mereka akan dapat bermain-main dengan anjing.
Memang sih bila phobia yang dikarenakan pengalaman traumatis lebih sulit
dihilangkan.
5. Reframing: Penderita
phobia disuruh membayangkan kembali menuju masa lampau dimana permulaannya si
penderita mengalami phobia, ditempat itu dibentuk suatu manusia baru yang tidak
takut lagi pada phobia-nya.
Bentuk-Bentuk Tanggung Jawab dan Pengabdian
A. Manusia
bertanggungjawab terhadap tindakan mereka. Manusia menanggung akibat dari
perbuatannya dan mengukurnya pada berbagai norma. Di antaranya adalah nurani
sendiri, standar nilai setiap pribadi. Norma-norma nilai ini dapat dibentuk
dengan berbagai macam cara.
Pengertian
Tanggung Jawab dan Pengabdian Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan
tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Yang
juga berarti perwujudan dari kesadaran akan kewajiban. Manusia pada hakikatnya
adalah makhluk yang bertanggunng jawab. Disebut demikian karena manusia, selain
merupakan makhluk individual dan makhluk social, juga merupakan makhluk tuhan.
Manusia memiliki tuntutan yang besar untuk bertanggung jawab mengingat ia
memenhtaskan sejumlah peranan dalam konteks social, individual ataupun
teologis. Menurut sifat dasar manusia adalah makhluk yang bermoral dan makluk
social, yang saling membutuhkan.
Oleh
karena itu dalam hal ini manusia tidak harus bertanggung jawab pada dirinya
sendiri, tapi juga untuk orang lain-lain, misalnya adalah:
a. Tanggung jawab kepada keluarga Masyrakat kecil
ialah keluarga. Maka setiap anggota yang ada dalam keluarga tersebut harus
bertanggung jawab atas keluarganya, yang menyangkut nama baik keluarga.
b. Tanggung
Jawab pada Masyarakat Manusia merupakakn anggota masyarakat dan tak akan pernah
lepas dari yang namanya kemasyarakatan. Wajarlah apabila segala tingkah laku
dan perbuatan harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Dalam diskusi politik sering disebut-sebut
istilah tanggungjawab sosial. Istilah ini dianggap sebagai bentuk khusus, lebih
tinggi dari tanggungjawab secara umum. Namun berbeda dari penggunaan bahasa
yang ada, tanggungjawab sosial dan solidaritas muncul dari tanggungjawab
pribadi dan sekaligus menuntut kebebasan dan persaingan dalam ukuran yang
tinggi.
Untuk
mengimbangi “tanggungjawab sosial” tersebut pemerintah membuat sejumlah sistem,
mulai dari Lembaga Federal untuk Pekerjaan sampai asuransi dana pensiun yang
dibiayai dengan uang pajak atau sumbangan-sumbangan paksaan. Institusi yang
terkait ditentukan dengan keanggotaan paksaan. Karena itu institusi-institusi
tersebut tidak mempunyai kualitas moral organisasi yang bersifat sukarela. Orang yang terlibat dalam
organisasi-organisasi seperti ini adalah mereka yang melaksanakan tanggungjawab
pribadi untuk diri sendiri dan orang lain.
Semboyan umum semua birokrat adalah perlindungan
sebagai ganti tanggungjawab.
Carl Horber
Pada
akhirnya tidak ada yang bertanggungjawab atas dampak-dampak dari penagaruh
politik terhadap keamanan sosial. Akibatnya ditanggung oleh pembayar pajak dan
penerima jasa.
c. Tanggung Jawab kepada Bangsa dan Negara Manusia
juga hidup pada suatu Negara yang mempunyai ukuran yang dibuat oleh Negara.yang
juga harus dipertanggumg jawabkan apabila terbukti bersalah.
d. Tanggung Jawab kepada Tuhan. Manusia hidup dalam
perjuangan, begitu firman Tuhan. Tetapi bila manusia tidak bekerja keras untuk
kelangsungan hidupnya, maka segala akibatnya harus dipikul sendiri,penderitaan
akibat kelalaian adalah tanggung jawabnya.
Meskipun
manusia perbuatannya yang salah dengan segala jalan sesuai kondisi dan
kemampuan, namun manusia tak dapat lepas dari tanggung jawab diakhirat nanti.
Pengabdian sendiri merupakan perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat
ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan antara lain kepada raja, cinta,
kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas.
Timbulnya pengabdian itu hakikatnya ada rasa tanggung jawab.
Langganan:
Postingan (Atom)




